26 Maret 2017

-

Menghadiri Acara Gerakan Ekonomi Budaya Minang (GEBU Minang) dalam rangkat Memperingati HUT IKMR Duri Mandau ke 17 Thn

-

Menghadiri Acara Pagelaran Sumarak Tradisi Pandeka Nagari Kamang Mudiak

-

Membuka Acara Khatam Al-Qur’an MDTA Plus SDN 27 Gadut

» jadwal kegiatan lainnya

Rabu, 29 Maret 2017 / 1 Rajab 1438 H
Karya Tulis Detil

 FIKSI

Oleh :  GRESYA

Selasa, 20/12/2016  16:23 WIB

BUR-HAN

Ini hari pertama kali aku menginjakkan kaki di daerah ini, Nagari Batu Gadang  namanya, pagi ini aku baru sampai dengan menumpang sebuah ojek  sejak turun dari bus AKDP tadi,menurut informasi yang ku dengar kalau ke nagari ini memang hanya ojek alat transportasi, itu pun tidak banyak

 

“terimakasih pak “ujarku sedikit tersenyum  pada tukang ojek yang baru saja mengantarkanku barusan, aku behenti tepat disebuah jembatan ,baru selesai dikerjakan tampaknya, ada tulisan  PNPM disana dan  pastinya ini bantuan pemerintah untuk pembangunan nagari ini,ku lihat lagi surat yang ku kantongi empat hari yang lalu,hhm,, tandatangan Pak Madehi terpampang jelas bertanggalkan 3 Nopember, sebuah surat pengantar ke Wali nagari  disini  untuk dapat menerimaku melakukan survey Pra Praktek Lapangan Mahasiswa Pertanian pada waktu tiga bulan kedepan, sebenarnya aku berdua dengan Melisa, tapi lantaran dia sakit maka aku yang lebih duluan datang kesini,hanya dua hari, hhmm sungguh menakjubkan,hamparan sawah luas membentang  dibawah kaki perbukitan,dua aliran sungai kecil membelah jalan yang separuhnya sudah diberi coran,aku sengaja berhenti disini, karena memang ingin menikmati keindahan alamnya dulu sebelum bertemu dengan Wali nagari  disini,hhmm.... benar benar sebuah daerah yang masih original,bau tanah nya sangat khas dan nyaris tanpa polusi,hanya satu persatu orang terlihat itu pun jauh ditengah sawah

 

“selamat pagi” tiba tiba sebuah suara mengagetkan ku,hhm seorang pemuda,tampan sekali, sepertinya masih seumur denganku,hatiku sedikit berdesir,matanya sangat teduh

 

“hei,,ya, selamat pagi”sahutku sambil tersenyum,tapi aku sedikit penasaran, perasaan tadi tidak ada siapa siapa

 

“baru datang ya?”tanyanya ramah

 

“hhm,iya,perkenalkan aku Asifa”aku mengulurkan tangan penuh rasa persahabatan,aku mau ke kantor walinagari,maaf saya bisa memanggilmu apa ya?

 

“aku..,Burhan”ujarnya santun

 

“Burhan?hm... namamu lucu sekali”ujarku tergelak

 

“iya,mungkin.. tapi itu nama pemberian orang tuaku” dia menganggukan kepala sambil tersenyum,wahh,, betul betul desa ini menyimpan permata,andai saja dia tinggal di kota mungkin udah jadi selebritis, Heran ya ganteng gitu namanya kok Burhan sih,harusnya,Richard,Kevin,atau Shandy kek gitu,tapi ini desa terpencil Asifa,mana mungin ada nama begituan,sshh.. lagian apalah arti sebuah nama

 

“kamu mahasiswi ya? Mau praktek disini?”tanyanya penuh selidik

 

“hmm,, iya, kok kau tahu?”heran,kok dia tahu? Padahal aku baru kesini,dan juga tidak ada informasi yang sebelumnya yang disampaikan kampusku ke nagari ini

 

“tidak, aku hanya menebak saja,karena penampilanmu berbeda dengan gadis gadis disini?”

 

“oh,,,, “aku mengangguk paham dengan ucapannya,

 

“maaf aku permisi dulu,silahkan lanjutkan perjalanannya”dia segera berlalu,tanpa bertanya apapun lagi,namun aku melihat tatapan nya sedikit misterius ke arah ku,mungkin karena aku baru pertama kali berada di daerah sini

 

“oo.. ya ya,, terimakasih,senang berkenalan denganmu”sahutku sabil melambaikan tangan dengan sedikit tersenyum,aku langkahkan kaki dengan riang hmm,,, B u r h a n,

 

 

 

Satu minggu telah berlalu,senyuman Burhan tetap tinggal dihatiku,kemana aku memandang aku kok sepertinya teringat Burhan terus,wajah tirus berkulit kuning langsat,hidung bangir tanpa cela,rambut hitam lurus waaupun tidak kena obat rebonding,pakaiannya juga tidak emnunjukan kalau dia anak desa, dia pakai jeans serta kemeja berwarna dongker, apa dia juga mahasiswa yang harus berpraktek disitu?..hhm kapan lagi aku akan bertemu Burhan,tapi yang pasti aku sangat senang sekaligus bangga diterima Praktek di Nagari Batu Gadang, Pak Zaiman Wali nagarinya sangat ramah dan bersedia membantuku,aku ditempatkaan dirumah Utiah Suman,dan merekapun keluarga yang sangat ramah,masakannya nikmat sekali,jarang ku rasakan di kotaku makanan seperti yang dimasak mandeh Upiak Lasani,hhuh..dua hari lagi aku akan kembali ke Nagari Batu Gadang,mudah mudahan aku bertemu lagi dengan Burhan,jujur selama satu minggu ini pikiranku selalu ada Burhan,apa aku terpesona atau tengah gila, aku ingin lebih dekat dengannya,dia anak yang sopan lagi ramah,dan senyumnya itu,,, kata orang kampusku gudangnya selebriti,bayangkan pemain film,pemain sinetron,model,anak konglomerat kuliah di sana tapi tidak ada yang melebihi ketampanan Burhan

 

“Selamat Datang kembali dik Asifa dan dik Melisa,silahkan berbaur dengan masyarakat kami disini,anggap mereka keluarga,kalau ada apa apa silahkan menemui saya,disini belum masuk telepon,atau pun jaringan internet,listrikpun tiga kali hidupnya tiga kali seminggu,mudah mudahan adik berdua merasa senang tinggal di nagari kami,dan mendapatkan hal hal yang berharga untuk masa depan adik - adik,dan kepada orang tua angkat yang telah kami pilihkan Utiah Suman dan Mandeh Upik,tolong bantu mereka dengan layak ya,begitupun dengan seluruh hadirin yang berbahagia,tolong dilayani tamu kita dengan baik, mereka juga kan bebagi ilmu dengan kita semua, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih”Pak Zaiman tersenyum penuh kegembiraan dan acara pun ditutup dengan salam salaman,semua orang beranjak ke tempat masing masing,plong rasanya hati telah berada di tempat ini

 

Tiba tiba perhatianku terpana,disudut pekarangan sana aku melihat sesosok pria tampan yang tengah tersenyum,hatiku berdesir pastinya aku mengenalnya, Burhan ujarku dalam hati, aku bergegas keluar menemuinya

 

“Burhan...”ujarku sumringah sambil menyalaminya

 

“selamat datang Asifa,bagaimana kabarmu?”tanyannya

 

“sehat Burhan,aku sehat,kamu?,,,o iya sebentar,aku ada teman namanya Melisa,bentar ya”

 

Tiba tiba Melisa sudah berada disampingku

 

“ayo kenalin,ini Melisa,...teman satu kampus denganku,ca, ini Burhan temanku disini,aku berkenalan waktu aku mengantarkan surat dari  Pak Mahedi waktu itu

 

“Kamu tampan sekali,oh my God,baru kali ini aku bertemu dengan orang setampanmu”

 

“biasa aja Melisa,aku hanya orang biasa kok, tidak seperti pacarmu dikota hehehh”

 

“what?? Kok kamu tahu Pacarku di kota segala,kamu mengada ada deh..kamu kenal rupanya?’’

 

“ah nggak kok aku cuma bercanda”sahut Burhan

 

Burhan sangat membantu kami berdua,dia dengan sigap mencari apa yang kami butuhkan,memberikan informasi yang kami perlukan bahkan ku pikir dia sangat jenius,apa yang aku dan melisa tidak tahu dia tahu segalanya,,,sejenak kejenuhanku dirumah juga berangsur hilang dengan adanya Burhan

 

“Kamu sepertinya betah disini Asifa”tanyanya suatu kali

 

“iya,,,”ujarku”

 

“kenapa? apa disini tidak membuat kau bosan?disini tidak ada akses komunikasi,tidak ada mall,plaza dan sejenisnya, juga tidak ada tempat kau bermain game online,ataupun club malam”ujarnya tersenyum menggodaku,aku hanya tersipu malu,seakan menelanjangi pola hidupku di kota,dan harusnya ucapannya barusan benar,karena memang hanya itu yang ku lalui nyaris setiap hari,nggak tahu kenapa,aku senantiasa merasa sebagai anak yang tidak beruntung

 

“burhan, kamu kok sepertinya banyak tahu akan segala hal,dosen kami saja kadang tidak mampu menjawab pertanyaan kami,sementara kamu menjelsakan dengan sangat detil secara ringkas,kamu dulu sekolah dimana?” tanyaku suatu kali

 

“maaf,aku menjawab hanya yang aku tahu dan semua itu kan kehidupan kita sehari hari”

 

“tidak,kamu menjawabnya dari sudut pandang berbagai ilmu”

 

“ilmu itu flexibel Asifa,tidak terpaku pada suatu hal”

 

“iya,tapi ..’

 

“ah sudahlah Asifa,nggak usah dibahas,kalau berguna ya manfaatkan saja”ujarnya tegas,aku terdiam,suaranya sangat bergetar

 

“tapi...kamu sangat pintar,kamu tiba tiba datang mneyapa ku waktu itu,dan kamu seakan tahu apa yang terjadi di diriku,apa bisa kamu menjawabnya?

 

“itu hanya hal yang sederhana yang tidak perlu di bahas,kau mahasiswa,harusnya tidak se naif ini” ujarnya ketus,dia pergi meninggalkan ku begitu saja,dalam ketermanguan ini,aku merasa ada yang bersemayam di dalam hatiku,mungkinkah aku menyukainya?

 

Sudah tiga minggu aku dan Melisa berada disini,kai selalu bertiga dengan Burhan menelusuri setiap sudut kampung ini

 

“fa,gue mau pulang ya sabtu depan”

 

“kenapa?lu ngga kerasan?”

 

“bukan, gue kangen mami,soalnya disini nggak ada media untuk gue bisa berkomunikasi”

 

“hm.. gitu,apa bukan keran kangen Ricki kapten basket itooooh?”

 

“syukur deh kalau lo ngerti,eeh,,, lo nggak kangen orang tua lo?”

 

“iya,pasti,tapi  gue akan lebih kangen kalo nggak ketemu Burhan”

 

“What?? Lo terpesona anak kampung getoh?? Secara masih ada Adit,Rangga,Pras,atau Bang Edmon yang bintang filem itu”

 

“ah,, nggak” eh tapi lo baliknya cepat ya,lo bilangin ke mama laporan gue beelom kelar”

 

“bisa aja lo.. ya deh gue sampein”

 

Hujan belum terlalu reda malam juga belum terlalu larut,aku akan berbahagia malam ini Burhan akan menjemputku kami akan bercengkrama dan bercanda melukis hari yang penuh warna dalam sebuah bingkai cerita,

 

“tiah,saya minta izin keluar malam ini ya,saya mau ke rumah Erni “

 

“o,sudah mulai bnya teman,ya Sifa,hati hati dijalan”

 

“apa kau sudah pernah ke rumahnya Sifa?”tanya Mandeh Upik

 

“sudah, mandeh,hari itu saya main di rumah Erni,amaknya baik juga ya mandeh”

 

“iya,si Mali itu sangat baik orangnya,tapi rumahnya cukup jauh,apa kau berani? Tambah lagi ada jembatan rusak disitu....”

 

“nggak apa apa mandeh,saya sebentar saja,mak mali mau memberikan oleh oleh”

 

“iya,tidak apa apa? Tapi jangan sampai lewat dari jembatan itu ya”

 

“kenapa rupanya mandeh?”tiba tiba aku sedikit bergidik,terbayang daerah itu memang agak lebat hutannya dan agak kelam,tapi ada beberapa rumah disana seingatku hari itu erni pernah mengajak kesana  tapi ya sudahlah,semua yang berbau mistis itu hanya omong kosong semata

 

Malam ini cukup dingin,aku melangkahkan kaki  menuju ke tempat yang telah kutentukan bersama Burhan,Kedai diujung sana,kata Burhan itu kedai saudaranya,kurapatkan tangan ke saku jaketku, sabil terus berjalan,terusterang malam ini memang agak ngeri,entah kenapa bulu kudukku berdiri,,,

 

Wuussssss... tiba tiba seekor ular berjalan tepat di depan langkahku,hhmm bukannya terus berjalan dia malah berdiri mematung di depanku,Ya Tuhan,, pasti ini yang diingatkan mandeh tadi,jantungku terasa mau behenti,aku diam tak bergeming,ku tahan napasku,dengan harapan nafasku tak terasa olehnya,aduh mama,, mungkin ini ujian untukku yang keras kepala,ular ,,, brengsek,aku harus bagaimana,,,perlahan ular itu menegakkn badannya,God,apa aku akan mati disini?mana tidak ada orang lewat lagi,dan sepertinya kedai diujung jalan sana juga tak hidup lampunya,ular itu begerak ke arahku.. tubuhku mula menggigil kedinginan rasa takut membuat aku seperti kehilangan keseimbangan,dia pasti akan mematukku,mama maafkan aku,,,,,teriakannku seakan memecahkan dunia tapi tak satupun yang datang menolongku,sedetik lagi aku an terkena racunnya...sekejap duniaku berputar dan gelap...namun masih terasa olehku ada tangan yang menyambutku saat aku terjatuh,..dan masih terdengar sayup di telingaku

 

“Pergilah paman,Jangan ganggu dia,atau kau akan berhadapan denganku”

 

 “asifa...asifa,,, “sayup ku dengar ada yang memanggil namaku dengan sangat lembut,,,,tubuhku terasa agak berat untuk digerakkan,perlahan aku membuka mata,ku lihat sekeliling ruangan ini,aku tengah berada di tempat tidur yang indah sekali,empuk dan amat wangi,ramai sekali orang mengelilingiku,tapi aku tak mengenal mereka,ada perempuan paruh baya yang cantik dengan rambut di sanggul,dan selendang berwarna biru terang dihiasi permata yang berkilauan,hampir seluru jemarinya memakai cincin yang terbuat dari emas,dia tersenyum kepadaku,lalu ada pria paruh baya yang tampan,seperti raja,pakaiannya pun mirip raja raja zaman dahulu seperti yang digambarkan dongeng dongeng pada saat aku kecil dahulu,lalu ada wanita seusia aku yang ssangat cantik seperti bidadari,rambutnya panjang tergerai indah, memakai  gaun berwarna abu abu,jepitan kecil bertengger di poninya,mukanya sangat mulus,dan aku baru kali ini betemu mereka,bahkan dalam mimpi pun tidak pernah,yang ku kenal hanya seorang laki laki tampan dia tepat berada di samping ku,Burhan

 

“Burhan..aku dimana?”

 

“tenanglah Sifa,kau berada di rumahku,kau aman disini,ini ayah ibuku,dan ini adikku,Denara” yang disebut namanya mengangguk penuh santun,keluarga yang sangat harmonis dan terpelajar

 

“tapi, ..”

 

“iya, aku tengah menunggumu tadi,tapi aku mendengar kau tengah minta tolong,makanya aku susul kesana,ada ular disitu yang hampir membunuhmu,itu jenis yang sangat berbahaya disekita sini,”ku lihat Burhan melirik ke arah ayahnya,lalu kembali tersenyum ke arahku sekan menjawab semua tanya yang ada di benakku

 

“maaf .. kami tiggal dulu ya,istirahat saja, sebentar lagi Burhan akan mengantarmu” ujar ibunya Burhan dengan lembut, o iya ini ada sedikit kue,jangan lupa di bawa nanti ya,,,

 

“iya, terimakasih bu”ujarku yang di balas anggukan mereka lalu berlalu meninggalkan aku dan Burhan.

 

“ternyata kamu cantik juga asifa”kata Burhan menggoda,aku berusaha untuk bangkit

 

“jangan terlalu dipaksakan”ujarnya

 

“nggak aku mau duduk”kataku sabil membawa badanku untuk bangkit

 

“sepertinya aku betah berada di dekatmu,assifa,aku mengkhawatirkanmu tadi,tapi maaf ku lihat kamu kok sedikit bermasalah dengan kehidupanmu,maaf aku tak berniat memasuki wilayah hidupmu hanya saja,...hhmm. tapi ku pikir tadi itu kamu mungkin tengah melamun”dia duduk di pinggir tempat tidur,matanya, tatapannya,,, mak,, aku tidak sanggup rasanya

 

“aku,,, tinggal dengan mamaku,ayahku di luar negri dan sudah punya istri lagi,aku tidak bisa lihat mamaku menderita..

 

“oo,,, ku pikir itu hal yang biasa,mungkin kamu haus lebih dewasa,menyikapinya”

 

“iya,Burhan terimakasih”

 

“o iya,kau sudah baikan,mari ku antar ke tempat tinggalmu,utiah Suman pasti sudah cemas menantimu”

 

“terimakasih Burhan”

 

Rasanya jaraknya cukup jauh,tapi aku sudah sampai dalam waktu sangat cepat,mungkin karena asyik bercengkrama dengan Burhan, ku lihat utiah dan mandeh Upik tengah duduk di teras rumah seprtinya mereka cemas,ku lihat jarunm jam yang melingkar di tangaku sudah di angka setengah satu,

 

“Asifa mungkin aku bisa mengantarmu hanya sampai disini,nggak enak dilihat orang kampung,apalagi Utiah termasuk orang yang disegani di kampung ini,selamat beristirahat ya,good night”

 

“Asifa.... aduh,kemana saja kamu? Sudah malam begini kok baru pulang?”

 

“maaf mandeh,Sifa ketiduran di rumahnya Erni”

 

“iya, tapi besok jangan begini lagi,mandeh sama utiahmu cemas sekali”

 

“nggak apa mandeh, nggak ada yang erlu di cemaskan,mari mandeh,kita istirahat di dalam saja ya”

 

“iya,, iya, tiah,, nah kita ke dalam”ajak mandeh

 

Sudah hampir mau subuh,mataku masih tidak bisa dipejamkan,wajah Burhan masih menaungi alam bawah sadarku, seakan aku ingin berada di dekat Burhan terus,Burhna juga mungki anak orang yang cukup terpandang di lingkungan tempat tinggalnya,sopan santunnya,tutur bahasanya,sikapnya begitu juga dengan keluarganya,mungkinkah bisa lebih dekat lagi dengannya,aku ingin selalu bercerita dengannya,bertukar pikiran,dia anaknya up to date,tidak punya gadget,tapi semua tentang gadget dia kuasai,tidak sekolah tpai pola pikirnya modern sekali,KKrrkkkrrkk,,,, aduh perutku berbunyi,aku lapar,benar tadi kau kan nggak makan apa apa, karena mau cepat ketemu Burhan, tapi ah,, malas sekali buat ngambil makanan,,e iya tadi ibunya Burhan kan bungkusin makanan buatku... coba dulu mana tau enak..

 

wwHaaaaa.... aku terlompat kaget setengan mati...kok isi bungkusannya ulat semua?? Ya Tuhan ada apalagi ni??? Gila..Apa memang ulat yang dibungkusin ibunya Burhan?apa dia tidak senang denan kedatanganku sehingga dia bungkusin ulat?...atau ... ah ulat darimana datangnya ini?? Aku lansung membuangnya lewat jendela

 

Hari ini agenda aku menyusuri perkebunan orang orang kampung ini,tapi nanti siang,karena mataku masih mengantuk,ku keluarkan lapatop menyelesaikan laporan hari kemaren, tapi kayaknya kali ini konsentrasiku terpecah abis,,aku Cuma pengen satu hal ketemu si Burhan,udah..

 

 “mandeh,, sifa mau keluar dulu ya,mau ke rumah erni..”

 

“Sifa,,,mandeh heran ko akhir akhir ini sering ke rumah erni terus,ada apa?

 

“nggak ada apa apa mandeh,erni kan suka nanya tentang kuliah ku,jadi sekaligus mengajarkannya,lagian dia kan buta huruf mandeh,sekarang sudah bisa baca ia”

 

“oo... syukurlah Sifa,mudah mudahan kau mendapatkan hal yang berharga dalam hidupmu karena kebaikan hatimu”

 

“terimakasih mandeh”mari mandeh sifa jalan dulu

 

‘“iya hati hati ya

 

Aku bergegas berjalan ke arah rumahnya Burhan,tapi sudah jauh berjalan kok nggak kelihatan rumahnya, bukannya semalam dekat sini ya,kayaknya ini salah jalan apa gimana ya,perasaan ini udah masuk hutan deh,mana jembatannya? terus apa balik idiih ngeri,, hutannya lebat sekali

 

“Hei Sifa,mau kemana?”sebuah suara mengagetkanku dari belakang

 

“oh,, eh,,, Burhan,, aku baru mau ke rumahmu,tapi nggak kelihatan  apa aku salah jalan?? Emang kamu darimana sih Burhan,kok kamu tahu aku berada disini?”

 

“oo.. hehehe... iya kamu salah jalan,itu rumahku tunjuknya ke arah kiri,liatkan ?”

 

“heheh.. iya iya...”

 

“So, hari ini mumpung udah disini,aku mau ajak kamu keliling kampung ini, kamu liat bagaimana kehidupan kami disini,setuju?”

 

“okey” anggukku abil tersenyum,aku banhagia sekali hari sungguh

 

Daerah ini cukup ramai,gadis gadis disini rata rata bekulit putih dengn kelopak mata yang indah,ibu ibu menggendong anak anak mereka pakai kain panjang,...mereka dengan ramah tersenyum ke arah aku dan Burhan

 

“Burhan,, itu bagus sekali,kolam renang ya?..”aku melihat sebuah kolam yang snagat jernih airnya,pinggirnya dihiasi batu pualam persis yang didongengkan ibuku dulu

 

“iya itu pemandian,airnya air mata air yang tumbuh disitu,airnya tidak pernah kering walau sudah berabad abad lamanya,airnya sangat wangi,biasanya kalau ada yang sakit mandi situ bisa sembuh”ujarnya,, aku mendengarkan dengan takjub,lalu kami berjalan memutar ke kanan

 

“Burhan,, itu kok ramai sekali?ada apa ?gadis gadisnya pakai baju cantik semua...”

 

“itu pasar Asifa,mereka menjual hasil ladang mereka,menjual aneka masakan mereka dan para wanita kebanyaan memakai baju kuruang baradai ameh,batanun banang,maukia kain suto na baragam rono”katanya panjang lebar

 

“Apa itu maksudnya?”

 

“Maksudnya baju nya cantik,ada emasnya,di kain sutra”dia tersenyum menjelaskan kepadaku

 

“ooohh,,, jadi disini baju nya sutra semua?”

 

“rata rata begitu”

 

“pantasan bagus smua”

 

Perlahan Burhan menggenggam tanganku,tangannya hangat sekali,aku terkejut dan menatapnya,mencari apa yang tersimpan di hatinya,dia balas menatapku dalam,aku jadi salah tingkah,dan ini baru pertama aku bersentuhan dengan orang yang berlainan jenis, dadaku berdegup kencang,dia berhenti

 

“asifa,aku ingin selalu di dekatmu,aku minta maaf mungkin ini tidak seharusnya,tapi jujur,aku tidak bisa jauah darimu lagi,aku ingin selalu bisa melindungimu”katanya polos,aku terkesima

 

“kalau begitu,aku juga merasakan hal yang sama”ujarku mungkin kali ini wajahku sudah seperti kepiting rebus,aku malu sekali, tapi aku juga harus mengatkannya, karena saat ini aku memang merasakan takut kehilangannya

 

Puas berkeliling,dan aku merasa tidak capek,karena banyak hal yang ku temui disini dan tidak kutemui di tempat lain,bahkan budayanya,bahasanya pun hampir tidak ku kenal,hnaya Burhan yang bisa berbahasa yang ku mmengerti,tapi kalau boleh jujur,aku ingin tinggal disini,apa apa serba mudah,an orangnya sanagt ramah, tdak seperti di kota,yang tidak saling kenal bahkan dengan tetangga sendiri.Lepas magrib aku sudah sapai kembali di rumah utiah..oo... kulihat raut muka orang tua angkatku ini kok sedikit tegang ya.. ada apa?

 

“Sifa,duduk”suara Utiah kali sangat berbeda dengan biasanya

 

“ya tiah,ada apaa?”aku duduk setengah tertunduk aku berpikir aku salah apa?”

 

“saya mau kau jujur sifa,karena kamu sudah kami anggap anak sendiri,seenarny kau kemana? Saya perhatikan kamu sering pergi saangat lama,kembali sudah agak malam”

 

“ke rumah erni utiah”

 

“jangan berbohong asifa,kamu itu tanggungjawab kami disini,akalu terjadi apa apa denganmu,kami yang dianggap lalai,asifa”

 

“iya,utiah...”

 

“tadi erni kesini”

 

Deg jantungku behenti berdetak,aduh aku ketahuan berbohongsma utiah

 

“dan katanya kau hanya dua kali kerumahnya,selebihnya kamu kemana sifa,ayo jawablah yang jujur nak,,, kami takut terjadi hal yang buruk denganmu”

 

“ooo... itu .. sifa minta maaf tiah nggak bilang bilang sama utiah dan mandeh,sifa jalan jalan,,, di sekitar nagari ini,sifa lihat lihat keindahan alamnya”

 

“benar?”kamu tidak melewati jembatan rusak itu kan?

 

“benar tiah”

 

Sebenarnya ada apa utiah selalu menanyakan soal lewat di jembatan rusak itu,utiah tidak mau menceritakannya  dan mandeh juga begitu,apa ada hubungannya dengan bungkusan ulat? Ular? Lalu Burhan?dia tidak penah mau mengantarkan aku ke rumah utiah dia  hanya mengantar sampai beberapa ratus meter dari rumahnya utiah,sampai gaya bicaranya yang kadang seperti raja raja zaman dahulu,? Aku harus ke rumah erni, harus bicara dengannya

 

“assalamualaikum,erni?....”

 

“waalakaum salam .. eh,,, asifa, kamu kemana saja, nggak prenah lai kesini,,?

 

“maaf erni aku sedikit sibuk,..”

 

“erni,apa kau mengenal Burhan?”

 

“Burhan?? Tidak.. aku tidak mengenalnya,.. eehh.. tapi kamu kenal dimana?

 

“masa tidak kenal Erni,dia anak kampung sebelah”  

 

Aku melihat Erni serba salah seakan ada yang disembunyikan dariku,membuat aku benar benar penasaran

 

“Erni,katakan padaku,Burhan siapa?” 

 

“aku tidak mengenalnya,,,, sungguh aku tidak kenal...”jawabnya setengah berteriak lansung berlari meninggalkan aku sendiri

 

Heran,kok anak kampung sebelah Erni tidak kenal,ini tidak seharusnya terjadi,hhmm aku jantungjku betul betul dalam keadaan yang nelangsa benar,aku harus mencari tahu siapa Burhan sebenarnya

 

“tidak uda,jangan sampai si Asifa itu ke melewati garis batas yang telah nenek moyang kita pancangkan dulu”

 

“tapi aku yakin dia sudah sampai kesana Lasani”

 

“entah bagaimana ini terjadi”

 

“urang sibunian itu,pasti akan mengambilnya jadi menantu dan akan memparalekkan nya seprti naak si Mali dua puluh tahun yang lalu...”

 

Deg,jantungku terasa berhenti,tubuhku serasa melayang,jadi ini yang selama ini di sembunyikan dariku,Burhan urang Bunian ? dan ternyata crita itu masih ada? Lalu kenapa  harus aku yang mengalaminya,kenapa aku sapai jatuh cinta dengan Burhan? Tidak aku harus bertemu Burhan sekarang juga,percakapan Utih dnan mandeh yang tidak sengaja ku dengar ini membuat hatiku tidak tahu harus menimbang apa,otakku hanya terpaku pada sosok Burhan Burhan dan Burhan

 

Ini memang belum terlalu sore,aku berjalan memutar mencari jalan alternatif dari jembatan rusak itu,meniti pematang sawah untuk sampai ke rumahnya Burhan, Shitt... lagi lagi au tidak melihat kampung Burhan,bahkan aku telah sampai di hulu sungai,ketakutanku takakan lagi menghalangi langkah langkah kaki ku ini,itu ada sarasah yang jatuh di batuan,ku coba masuk ke dalam air terjun,berharap dapat bertemu Burhan,Sssleeppphh.... licin,Owwwhh... aku terjatuh,dan ini dalam,kolamnya dalam sekali,pada siapa aku akan minta tolong,,,, tapi  Toloooonngg,,,,, Toloooonnng,,,,,aku seperti terseret dibawa arus seperti nya ini terowongan air, dan aku tidak ingat apa apa lagi                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

 

Rasanya entah berapa lama aku tertidur,,,,hanagtnya matahari,mulai terasa membakar tubuhku,ku lihat aku berada di sebuah gubuk tua,,beberapa pohon bambu mengitari pondok ini, disana sepertinya ada yang membuat unggun,aku mencoba berjalan ke arah situ,seorang pria tengah mematung menatap kobaran api

 

“Burhan???”kau?”aku terlompat kaget, serasa ingin memeluknya atau mungkin membunuhnya

 

“Asifa,,,, kenapa kamu begitu keras kepala? Ini bukan wilayahmu,kau tidak tahu ini dimana,kapa kamu ingin mengakhiri hidupmu dengan masuk ke air terjun itu?”

 

“burhan itu karena aku ingin bertemu denganmu,dan aku tersesat”

 

“iya, kau sudah tersesat begitu jauh, sebaiknya kamu kembali”

 

“tidak,aku ingin tahu siapa kau yang sebenarnya,kenapa di setiap resiko yang ku alami,kau begitu cepat datangnya,bahkan di tempat yang sangt jauh sekalipun,daerimana kau tahu kau di hulu sungai ini?,,, rumahmu dimana sebenarnya?aku selalu buta tak melihat siapa dirimu sebenarnya?

 

“jadi kau tahu memang nya aku ini siapa?apa aku ini hantu bagimu?kau bicara seakan kau seorang antropolog jenius yang telah kembali dari mati surinya,kau sangat  hebat Asifa,... kalau begitu katakanlah siapa aku yang sebenarnya,yang telah kau pahami dengan begitu sangat paham”

 

“Burhan, kau orang bunian kan?? Jujur padaku benarkan?”

 

“kalau iya memangnya kenapa?,kau mau lari dari kenyataan?atau kau takut aku akan membuat sesuatu yang buruk terhadapmu?”

 

“tidak,aku tidak merasa takut,tapi kenapa kau tak pernah jujur selama ini?”

 

“apa itu perlu bagimu? Kau akan pergi Asifa,waktumu tidak banyak buatku,kau pasti akan meninggalkan aku bila ku beritahu semua itu dari awal,dan aku akan sakit asifa,sakit karena mu, karena sejak awal aku telah mencintaimu,kau harus menyadari bila kedatanganmu kesini telah di undang oleh keberadaan diriku, keberadaan dirikuuuu”aku terdiam di antara nafas yang nyaris  berada di awang awang namun rasa cintaku pada Burhan takkan merasakan kemarahan yang dilontarkan Burhan kepadaku

 

“kalau begitu,bawa aku bersamamu”

 

“tidak,aku tidak akan merebut kau dari orangtuamu yang sebenarnya itu bisa ku lakukan,kalau aku ingin,aku bisa membuat sebuah pesta besar disini,kau tahu aku adalah anak raja Buriang,raja Sibunian disini,aku ingin kau tetap hidup bersama orangtuamu hingga kelak aku akan menjemputmu,kau masih terlalu muda untuk mengikuti dunia kami, sementara kami tidak ada matinya”

 

“lalu,.. bungkusan ulat itu?”

 

“itu makanan kami,dan beruntung kau tidak memakannya, sehingga kau masih dalam keadaan normal saat ini, sekarang kau pulanglah..aku kan mengantarmu.”

 

“tidak,aku ingin pulang denganmu,tetaplah dalam keadaan terlihat oleh manusia lain,aku tidak ingin hidup tanpamu

 

“jangan bodoh Asifa,kita berbeda,dan tidak akan ada di alammu yang akan menerima makhluk halus sepertiku”

 

 

 

“Burhan,kami ingin secepatnya,menikahkanmu dengan gadis itu,dia anak yang baik,dia bisa menjadi ratu di Kerajaan kita”

 

“tidak ayah”

 

“kau menolaknya?”

 

“tidak sekarang ayah”,,tapi ada baiknya kau perkenalkan lebih jauh kepada masyarakat kita,tentang dia,apa kau setuju?ibumu akan sakait bila kau menolaknya”

 

“baiklah ayah,,,”

 

Malam mulai larut,talempong dan gendang bersahutan mengeluarkan irama yang khas,Gong telah di tabuh berkali kali,, semua rakyat bunian telah keluar dari rumah mereka masing masing,ramai sekali,aku bahagia bersama Burhan dan rakyatnya walau bukan untuk menikah denganku,malam ini di iringi tari tarian dari penari yang cantik jelita,aku menikmati malam ini bersama Burhan,,,

 

“kalau nati kita menikah,kita juga akan ada alek seperti ini Sifa,,,”

 

“iya,aku bersedia kok, bahkan tidak di tunda pun tidak apa apa, kita lansungkan saja sekarang”

 

“Tidak nanti akau kan melamarmu pada orang tuamu”

 

Kami bercerita hingga larut malam,dan malam ini aku akan menginap dsini,

 

“ayo sifa aku akan antar kau ke kamarmu”...

 

“terimakasih Burhan,..” belum lma aku tertidur

 

“Asifa,,, asifa,,,,” suara suara memanggilku dengan lantang,Asifa......

 

Tiba tiba aku mendengar suara utiah, dan orang kampung,matahari baru saja memperlihatkan sinarnya,...

 

“Asifa,,, kamu telah dibawa orang bunian kesini,lihat,kau sekarang berada dimana?”perlahan ku sapu pandangan sekelilingku,ya Tuhan,,ternyata aku berada di atas sebuah batu yang cukup tinggi,dan dibawahnya terdapat jurang yang begitu dalam
“Burhan? Burhan mana tadi di di sampingku”

 

“Burhan tidak ada Asifa,dia telah pergi,dia adalah orang bunian”ujar pak katik

 

“Ayo sekarang kita pulang,kau masih beruntung belum terlalu jauh”

 

“MMhh,,, tapi...”

 

“sudahlah Asifa semua telah berlalu,...”

 

Perlahan ku langkahkan kaki menuju pulang bersama rombongan parik paga nagari,seakan aku terbangun dari mimpi,antara nyata dengan tidak,,,

 

”Hati hati pulang ya Asifa, aku akan menunggumu disini,untuk kehidupanmu selanjutnya” sebuah suara berbisik ditelingaku,i love you, dia tenyata berjalan disampingku,Burhan biarlah kita berdua yang tahu akan cerita kita,mereka tidak melihatmu,

 

”aku akan selalu disampingmu Asifa,dalam diam ku cintai kau”

 

Burhan tersenyum sambil menggenggam tanganku....

44

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :