29 April 2017

-

Pembukaan Acara khatam Al-Quran MDTA Masjid Safinatullah

-

Memberikan Sambutan pada Acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Asrama Ponpes Ranah Parit Putus Agam

-

Menghadiri Acara Memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1438 H/2017 M Masjid Syuhada Lapau Talang

» jadwal kegiatan lainnya

Senin, 01 Mei 2017 / 4 Sya'ban 1438 H
Karya Tulis Detil

 ARTIKEL

Oleh :  Ibrahim

Senin, 09/01/2017  14:22 WIB

PILIHAN

Dalam menjalani hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan. Pilihan untuk ini, pilihan untuk itu, pilihan untuk begini dan pilihan untuk begitu. Begitu banyak pilihan yang harus kita pilih dalam mengarungi kehidupan kita. Pilihan yang akan menentukan bagaimana kita nanti, bagaimana kita akan menjalani hidup kita dimasa yang akan datang.

 

Pada dasarnya pilihan kita hanya 2, yaitu “YA” atau “TIDAK”. Pilihan untuk mengatakan Ya atau pilihan untuk mengaakan Tidak. Pilihan untuk melakukan atau pilihan untuk tidak melakukan. Pilihan untuk menolong atau pilihan untuk tidak menolong dan lain sebagainya. Intinya tetap berkenaan dengan “YA” atau “TIDAK” dan setiap pilihan yang kita pilih tentu saja ada konsekuensinya, tentu saja ada dampaknya.

 

Dalam proses kita memilih, tentu akan ada pertimbangan-pertimbangan kenapa memilih “YA” dan kenapa memilih “TIDAK”. Dalam proses memilih kita setidaknya tentu punya pedoman, kita tentu akan memikirkan konseksuensi bagi diri kita dan orang lain serta dampaknya kepada lingkungan sekitar kita..

 

Dengan adanya peraturan lalu lintas, Ada aturan yang mengikat kita sebagai penguna jalan raya, baik itu sebagai penggguna kendaraan atau sebagai pejalan kaki, ada aturan dalam memasang plang untuk iklan bahkan ada aturan dalam memasang rambu-rambu lalu lintas.

 

Kita sebagai pengendara motor, dalam aturannya ketika lampu merah, maka kita wajib untuk berhenti, namun demikian kita masih punya pilihan untuk ikut aturan dengan cara berhenti atau ikut pilihan untuk tidak ikut peraturan dengan menerobos lampu merah tersebut. Tentu ada hal yang membuat untuk ikut peraturan lalu lintas atau melanggar aturan lalu lintas, dan tentu kita pun tau apa manfaat dan resiko dari pilihan kita tersebut.

 

Tau dengan akibat, tau dengan resiko atas pilihan kita tersebut. Maka seharusnya kita pun harus siap menerima konsekuensi yang akan terjadi akbat dari pilihan tersebut. Jangan ada alasan begini atau begitu lagi, karena aturannya sudah jelas dan kita semua sudah tau.

 

Atau misalnya, kita sebagai seorang pedagang tentu dihadapkan pada pilihan menjadi pedagang jujur atau tidak jujur. Pedoman kita untuk memilih jadi pedagang jujur dan tidak jujur tentu saja ada. Kita memilih pedagang jujur karena ini, dan kita menjadi pedagang tidak jujur karena itu. Selain itu kita tentu juga akan memikirkan konseksuensinya bagi keberlangsungan pekerjaan dan dampak bagi orang yang membeli.

 

Lalu misalkan kita sedang dalam kondisi tidak punya uang, dan pada saat itu ada kondisi dimana kita punya pilihan untuk mencuri dan pilihan untuk tidak mencuri. Saat memilih untuk mencuri mungkin disebabkan oleh kondisi diri yang sedang butuh uang, dan kita mengacuhkah konsekuensi kepada diri kita bila tertangkap akan diproses secara hukum, dan kita juga mengenyampingkan akan adanya kerugian bagi orang lain. Dan ketika kita memilih untuk tidak mencuri, mungkin kita lebih mendahulukan ketiadaan konsekuensi yang buruk pada diri kita dan dampak buruk pada orang lain dan mengenyampingkan kebutuhan diri sendiri.

 

Selanjutnya saat kita telah memilih untuk mencuri, kita idealnya haruslah juga siap untuk menerima resikonya, kita seharusnya juga siap dengan konsekuensinya. Resiko ketika kita tertangkap kita akan berhadapan dengan hukum, konsekuensi bahwa keluarga kita akan menanggung malu akibat pilihan tersebut. Dan begitupun sebaliknya, saat pilihan untuk tidak mencuri yang dipilih maka kita pun harus siap dengan resikonya. Mungkin yang akan terjadi selanjutnya kebutuhan akan uang tersebut tidak terpenuhi namun resiko berhadapan dengan hukum tidak akan kita hadapi.

 

Pada kasus diatas, pilihan yang datang sudah jelas dampak, resiko dan  manfaatnya. Dan pilihan ini akan menjadi pilihan yang sangat mudah karena sudah jelas kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Pilihan-pilihan yang sudah ada pedoman untuk memilihnya. Mencuri itu dilarang, namun kita masih bisa memilih untuk mencuri atau tidak mencuri, tentu bersama dengan segala resikonya. Berbohong itu dilarang, namun demikian kita pun masih bisa memilih untuk berbohong dan untuk itu kita harus siap dengan segala konsekuensinya.

 

Lalu bagaimana bila dampak atau akibat dari pilihan tersebut tidak bisa diketahui saat itu, misalnya kita dihadapkan pada pilihan jurusan kuliah, kita dihadapkan pada jenis pekerjaan yang akan kita jalani. Bagaimana kita memilih, sementara untuk hal-hal semacam itu tidak ada pedoman dalam memilih, tidak ada patokannya.

 

Untuk pilihan semacam ini, TIDAK ADA PILIHAN BENAR ATAU PILIHAN SALAH, YANG ADA ADALAH KITA PILIH LALU BUKTIKAN BAHWA PILIHAN KITA ITU ADALAH YANG TERBAIK. Pilihan ini sangat bergantung kepada pribadi si pemilih.

 

Seperti kasus diatas, misalnya di Badu setelah lulus SLTA dia akan kuliah dan dihadapkan pada pilihan untuk masuk jurusan Teknik dan masuk jurusan Sastra. Secara kemapuan si Badu bisa, dilema saat si Badu memilih adalah jika si Badu masuk jurusan Teknik, maka akan banyak lowongan kerja yang menanti, jika si Badu masuk jurusan Sastra lowongan pekerjaan yang menanti tidak sebanyak pada jurusan teknik.

 

Mungkin kita akan berfikir sebaiknya Badu masuk jurusan teknik saja karena faktor setelah kuliah akan lebih mudah mendapat pekerjaan. Namun begitu, ini belum tentu akan terjadi, belum tentu juga Badu akan mudah mendapat pekerjaan. Begitupun sebaliknya jika si Badu memilih untuk masuk jurusan sastra, belum tentu juga dia akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan karena lowongan kerja tidak sebanyak pada jurusan teknik, hal tersebut kembali pada si Badu sendiri bagaimana dia berusaha.

 

Lalu misalnya si Badu mengambil kuliah di jurusan teknik, dengan segala usaha dan upaya dia belajar dengan giat dan setelah lulus dia pun melamar pekerjaan. Setelah lamaran dikirim dan ternyata ada 2 lokasi pekerjaan yang siap mempekerjakan si Badu, yang 1 ada di kota tempat Badu tinggal dengan gaji yang tidak terlalu besar dan yang 1 lagi berada jauh di pulau seberang namun dengan gaji yang besar.

 

Bagaimana si Badu akan memilih pekerjaan tersebut? Pilihan ini pun tidak ada jaminan bahwa bekerja di lokasi yang dekat akan lebih baik dari bekerja di lokasi yang jauh, begitupun sebaliknya, tidak ada jaminan bekerja di lokais yang jauh akan lebih baik dari bekerja di lokasi yang dekat. Yang bisa Badu lakukan adalah Badu membuat pilihan lalu Badu buktikan bahwa pilihannya adalah yang terbaik.

 

Anggaplah Badu memilih untuk bekerja di lokasi yang jauh dengan gaji yang besar, namun ternyata tidak lama kemudian orang tua Badu sakit-sakitan. Dengan kondisi demikian tentu saja si Badu tidak bisa mendampingi orang tua nya saat sakit. Karena Badu tidak mendapat izin dari perusahaan untuk pulang maka di Badu mengeluh dan terbesit “seandainya dulu saya memilih bekerja di perusahaan dekat dengan rumah, pasti di Badu bisa mendampingi orang tua nya saat sakit” ketika ada keluhan dan ada penyesalan itu lah, maka pilihan yang dibuat oleh si Badu dalam memilih pekerjaan adalah bukan yang terbaik. Namun jika keluhan dan penyesalan itu tidak ada makan itu akan tetap menjadi pilihan yang terbaik.

 

Hadapi setiap konsekuensi dari pilihan dengan sabar dan rasa syukur. Dalam setiap pilihan, syukuri apa yang kita dapatkan, syukuri apa yang terjadi. Jauhkan keluh kesah dari diri kita. Hidup akan tetap indah saat rasa syukur masih bisa kita rasakan, saat kita masih bisa berterima kasih dengan keadaan diri kita, saat semuanya masih bisa dihadapi dengan kesabaran.

 

 

 

* isi merupakan tanggung jawab pengirim karya tulis ...

Share di situs jejaring sosial :